|
Setiap manusia bertanggung jawab atas hidupnya sendiri Setuju sama kalimat diatas?? Sebuah teori di ilmu psikologi menjelaskan tentang bagaimana seseorang memandang segala sesuatu yang terjadi pada dirinya. Teori itu disebut teori Locus of Control. Ada penjelasan panjang dibalik teori itu, tapi sebaiknya penjelasan itu untuk konsumsi mahasiswa psikologi saja ya (dengan kata lain, males jelasinnya..), but to make it short, teori ini menjelaskan bahwa manusia terbagi jadi dua berdasarkan kekuatan yang dia percayai dapat mengontrol hal - hal yang terjadi dalam hidupnya. Locus of control internal dan Locus of control external. Apa bedanya? Orang dengan locus of control internal percaya bahwa semua hal yang terjadi pada dirinya adalah hasil kerja keras dan usahanya sendiri. Kegagalanpun dimaknai sebagai kesalahan yang ia buat sendiri. Orang dengan locus of control external sangat percaya bahwa semua hal yang terjadi pada dirinya disebabkan oleh hal - hal diluar dirinya seperti kekuatan nasib, takdir, suratan dan sejenisnya. Untuk orang - orang ini, usaha dan kerja keras tidak akan ada gunanya, karena segala sesuatu pada dasarnya sudah digariskan oleh sang Kuasa Kesimpulan mudah sekali ditarik (kenapa ya disebut "penarikan kesimpulan?" apakah karena dalam prosesnya fakta "ditarik - tarik" sampe berbusa seperti proses pembuatan teh tarik??) Kalimat pembuka diatas merupakan kalimat yang akan dikeluarkan orang dengan locus of control.. external Saya sendiri percaya bahwa saya adalah orang dengan locus of control internal. setidaknya, hasil psikotes saya menyatakan demikian (kalau anda berminat untuk ditest juga, silahkan hubungi saya..). Namun, banyak kejadian dalam hidup saya yang membuat saya menjadi meragukan kekuatan diri untuk mengontrol hidup saya sendiri. Salah satu contohnya adalah saat berhubungan dengan kehidupan cinta (Cie..). When it comes to create, manage and terminate a relationship, it always takes two to tango. Itu berarti ada hal - hal lain (a.k.a orang lain) diluar diri saya yang juga berperan untuk menentukan apa yang akan terjadi pada saya. Saat ini, saya sedang berada dalam sebuah hubungan yang sangat ingin saya akhiri. Sebuah hubungan yang sebenarnya saya pertanyakan "is it really a relationship from the beginning?". Namun ketika 'dia' tidak juga pergi dari kepala dan hidup saya, ketika 'dia' mempengaruhi banyak keputusan besar saya, maka meminjam istilah dari sahabat saya, Dora, "apa namanya itu apabila tidak mau disebut sebuah hubungan?" Sebagai seseorang dengan locus of control internal, seharusnya saya bisa menghentikan hubungan (or whatever that is) ini kapanpun saya mau. Namun apa yang terjadi? Selalu saja ada kejadian yang membuat jalan kita bertemu lagi dan membuat segalanya dimulai dari awal lagi. Tiba – tiba saja muncul kejadian – kejadian kecil yang membuat saya harus membuka lagi hubungan dengannya. Saya seperti disadarkan bahwa ada tangan yang lebih berkuasa yang mengaturnya. Saya semakin mengerti bahwa saya tidak sepenuhnya memiliki kekuatan untuk mengontrol hidup saya. Ada hal - hal yang terjadi diluar kehendak saya, walaupun saya telah memberikan semua usaha agar itu tidak terjadi. Like my best friend used to say "Sh*t happens!" Lalu apakah saya menyerahkan begitu saja pada takdir Yang Kuasa? Hmm.. Thats not me.. Saya percaya, saya masih punya "priviledge" satu lagi, yaitu dengan berdoa. Menjalin hubungan dengan Yang Kuasa, memudahkan saya untuk belajar menerima dan menjalani hidup dengan ikhlas. Seorang teman pernah berkata, hidup itu seperti lakon wayang. Kita adalah wayang dan sebaiknya kita menjalin hubungan baik dengan dalang. Siapa tau, dalang bersedia mengubah cerita or better, memberi apa yang kita minta.. I am currently in a phase where I am asking, begging, trying and hoping. My (love) life seems like spinning forward, leaving me behind with questions. Get me out of here please..
|
| Leave a Comment: |