about me..
Thoth (August 29 - September 27) Thoth is the god of learning. Those born under this sign are typically accurate and capable problem-solvers and excellent organizers as well.
However, they would give up anything in return for a better offer.
Strengths: seasoned and original.
Weaknesses: rash, impatient and self-rigorous
|
 |
Nov 24, 2005
Mengucap selamat tinggal merupakan hal yang selalu tidak mudah untuk dilakukan.. Tidak perduli apakah itu untuk beberapa jam, beberapa hari ataupun selamanya..
oh sial, udah harus boarding.. Bye!
Posted at 09:13 am by penari
Permalink
Nov 20, 2005
Hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama dua kali
Namun hanya manusia yang dengan sengaja menjatuhkan diri pada lubang yang dibuatnya sendiri..
Ngerti kan maksud quotes diatas? Manusia memang lebih bodoh dari keledai, well, ngga semua manusia sih.. at least aku (yang sudah pasti manusia) sepertinya lebih bodoh dari keledai. Aku terperangkap pada keputusan yang aku buat sendiri. Aku terlena dengan kebahagiaan yang pasti berakhir
Seorang sahabat pernah mengeluarkan term 'kebahagiaan sesaat'. Aku tidak setuju dengan term itu. Menurutku, semua kebahagiaan (begitu juga kesedihan) PASTI berakhir. There's nothing we can do to change that.. Satu - satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menikmatinya. Menikmati kebahagiaan selama hal itu masih bisa dimiliki, seperti juga menikmati kesedihan selama kesedihan masih memilih kita untuk dihampiri. Karena percayalah, semua itu, pasti berakhir..
Jadi, sebenernya ngga apa - apa donk terlena dengan kebahagiaan yang pasti berakhir? Is it that easy? Ternyata aku lupa, bahwa sebagai manusia, aku lahir dengan satu hal yang sangat penting, perasaan. Menurut logika, ikuti saja aturan mainnya. Ketika sedang bahagia, ya bahagia, ketika sedang sedih, ya sedih. Namun, bila perasaan sudah ikut bermain di dalamnya, maka yang terjadi adalah, ketika sedang bahagia, kita malah memikirkan kesedihan yang akan terjadi nanti. Begitu pula ketika sedang sedih, kita malah memikirkan kebahagiaan yang dulu pernah terjadi. Aneh kan?
Dilema ini yang terjadi padaku kemarin malam. Apakah seharusnya aku ikuti saja kebahagiaan yang sedang terjadi, atau seharusnya aku mengantisipasi kesedihan yang mungkin akan datang? Tetes air mata sempat memperlihatkan dirinya ketika aku sedang mempertanyakan hal itu. Namun kemudian aku tersadar, sebagai manusia, aku tidak memiliki kekuasaan untuk mencegah hal yang akan terjadi. Aku hanya bisa menikmati apa yang sedang diberikan dan mengambil pelajaran darinya.. Seperti kalimat diatas, hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama dua kali
Aku sudah membuat keputusan dan aku akan menikmatinya. Bila tiba waktunya untuk semua ini berakhir, paling tidak aku tetap akan bersyukur bahwa kebahagiaan pernah memilihku untuk dihampiri..
(Ngomong lo Yu! Liat aja, palingan juga lo bakal nangis - nangis dan menulis yang aneh - aneh lagi disini, hehehe. Kita tunggu saja tanggal mainnya!)
Posted at 10:21 pm by penari
Permalink
Nov 12, 2005
Kemarin, seorang sahabat menghampiri dengan ceria. Namun langkahnya terhenti ketika melihat bahasa tubuhku dan berucap "Ada apa? Sepertinya kamu menyambut hari ini tidak seceria biasanya?". Aku hanya berpaling tanpa senyum dan mengeluarkan sedikit kata hati. Kemudian sang sahabat menjawab "Ayu sudah jadi, buka aja di blog aku".. Kalimat itu berhasil membuatku tersenyum, 'Ayu' sudah jadi!
'Ayu' adalah sebuah karya yang dibuat oleh seorang sahabat. Entah ada apa di balik pembuatan karya itu, namun sang sahabat berhasil membuatku menanti kelahiran 'Ayu". Dengan taruhan bahwa dia akan menjitak seseorang yang tidak kita sukai apabila karya itu tidak selesai tepat waktu (dan memang tidak tepat waktu, aku tunggu taruhanmu!), aku jadi semakin penasaran..
Ternyata 'Ayu' berhasil membuatku terdiam.. dan membutuhkan waktu untuk menata perasaanku kembali setelah selesai membacanya. 'Ayu' berhasil membuka pertanyaan, menikmati indahnya kenangan dan mengajarkan pentingnya melepaskan.
Sahabat mengizinkan aku mempublikasikan 'Ayu' disini. Please read and enjoy..
“AYU begitu Pilu!”
oleh:
Kornelius Irwanto
Jinjit demi jinjit tapak kaki kecilnya menari mengikuti alunan musik pengiring yang terdengar indah menggema di seluruh ruangan. Jari-jemari lentiknya mengibas ke kanan dan ke kiri. Lekuk tubuh indahnya meliuk bak seekor angsa menari di atas danau. Tak terasa telah hampir seratus dua puluh menit menari tanpa henti dengan berpeluh runtuh membuat semangat riuh menyeluruh. Sehingga gemuruh penonton yang memadati ruang pertunjukkan malam itu terobati sudah dengan hadirnya “diva ballerina” yang memang sudah ditunggu kehadirannya pada malam hari ini.
Setelah membungkukkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan kepada penonton, dan penonton memberikan “standing applause” kepadanya, beberapa saat kemudian gordyn merah besar layar pertunjukan menutup panggung. Dirinya berlari lirih ke balik belakang panggung. Terlepaskan semua beban yang selama ini menjadi ganjalannya telah runtuh bersama penampilannya yang memukau baru saja, diiringi dengan riuh suasana riuh penonton yang masih membahana.
“Bagaimana aku tadi, hebatkah??”….semangatnya menanti komentar orang-orang terdekat di sekelilingnya.
“Wah….pastikan,” sepatah kata yang sering terlontar dari mulut seorang yang dengan senang hati memberikan ucapan selamat kepada sang “diva ballerina” malam itu.
“Akh….aku jadi malu??” rona merah pipinya tetap terlihat terpancar merekah di balik letih dirinya malam itu. Oh…suatu kebanggaan yang luar biasa tak terkira telah dapat memberikan suatu wejangan yang penuh arti kepada semua orang saat ini.
Ayu, demikian namanya. Disapa dan ditegur oleh kerabat, saudara dan para sahabatnya. Perempuan berwajah ayu sesuai namanya. Tutur kata dan tabiatnya juga terbilang ayu, penuh lugu laksana surga terberi. Ia kini duduk di tingkat terakhir suatu universitas terkemuka di Jakarta dan dengan segera dirinya akan mendapatkan embel-embel gelar perkuliahan di belakang namanya yang memang sudah diidam-idamkannya sejak lama. Sebagai salah seorang calon Psikolog yang merupakan cita-citanya sejak dahulu, membuatnya semakin mantap menentukan pilihan hidupnya kini.
Bukan hanya sebagai ballerina semata, dirinya juga cukup piawai dalam menarikan berbagai macam tari-tarian nasional. Selain itu dirinya juga dapat mempermainkan salah satu alat musik eksotis klasikal. Tidak sekelas Idris Sardi atau setaraf Maylafaiza tentunya, akan tapi menurut orang kebanyakan, jika seorang wanita dapat menari-narikan jari-jemari lentikya pada alat musik ini pasti akan tampil terlihat seksi dan penuh aksi. Dan ayu memiliki itu.
Di tengah-tengah sejuta aktivitasnya, dirinya tidak lupa untuk selalu menunaikan kewajibannya bertegur-sapa dengan Sang pemberi hidup. Dirinya selalu jujur pada Sang Khalik sejati….. diujarkannya berbagai keinginan hatinya tanpa merasa risih dan malu, cukup terbuka dengan segala keberadaanya.
Di usianya yang menjelang seperempat abad, bukan sebagai manusia “super” dan sempurna dirinya dalam menjalani hidup ….dia hanya manusia biasa…..akan tetap ada onak yang menyentuh jari-jari kakinya…..ada sedikit duri di dalam hati dan perasaannya…ada terhampar lara dalam pola berfikirnya. Demikian hidup yang harus dijalani oleh setiap manusia biasa.
Malam itu kembali dirinya tampak dengan kesendiriannya…membuka lembar-demi lembar jurnal hariannya…..dan didapatinya secarik kertas kusam yang pernah diremas-remas…tapi dibuangnya sayang tersisipi jelas.
Ketika malam adalah resah yang panjang menunggu palu pengadilan diketuk. Ketika siang adalah penjara dalam peperangan. Ketika mata angin tak lagi menunjukkan kemana jalan setapak yang terang. Ketika dingin mencekam menusuk hingga tulang putih terasa nyeri. Ketika tersudut di lorong gelap. Ketika airmata tak lagi bisa menetes. Ketika kaki tak punya cukup energi untuk membawaku pergi. Mungkin juga untuk kembali.
Semua datang begitu saja. Tanpa aku sadari. Dan aku tak kuasa untuk menolak.
Betapa ingin aku tetap ada di sini. Menghitung bintang. Melihat lukisan senja. Menunggu matahari di bukit. Merasakan tetes hujan. Mengajakmu mendaki. Mengajakmu menyentuh ujung ombak. Membiarkan pasir mengotori jemari kaki. Membangun istana pasir.
Aku akan kembali... *
-sang kekasih hati pujaan
yang baru saja pergi meninggalkan dan mengecewakanmu-
Kembali hatinya terkoyak…sedikit dalam perih tersayat…tatkala hanyut dirinya terbawa oleh goresan tinta terakhir kekasih hatinya yang ada dalam genggamannya kini. Perlahan berguguran butir-butir air bening mengalir keluar dari pelupuk matanya yang syahdu…. membasahi wajah yang sangat kuyu malam itu….isak tangis terdengar perlahan..desahan nafas panjang seakan tak kuasa menahan kekesalan dan kegundahan….semua berbaur dalam kegelisahan malam yang panjang hingga dirinya terlelap dalam ratapan lara.
Sudah sejak lama memang sang ayu menjalin hubungan kasih mesra dengan seorang pemuda yang sangat dicintainya. Pemuda yang cukup mengerti akan seluruh eksistensi dan keberadaan hidup akan dirinya. Dirinya banyak menaruh harap akan kesungguhan insan yang tercipta dan paling dicinta. Membangun bahtera hidup bersama. Seteguk rangkaian kasih mesra terjalin murni dan akankah abadi? Kedamaian cinta sesaatkah?
Bukan hanya penuh duka telah mereka lalui bersama, akan tetapi halangan pertama sudah membentang di depan mata cukup tinggi. Setinggi gunung dapat di daki, dalamnya jurang dapat dilalui..apakah semudah itu halangan yang dapat dilalui kedua insan yang saling terkasih ini?
Oh….seandainya hidup tanpa nestapa…seandainya hidup penuh gembira…..bagaikan menari di atas awan dan tinggal dalam khayangan…semua begitu mudah untuk dicapai. Mimpi hanya tinggal kenangan kini…..kekasih sang ayu pergi meninggalkannya dalam sekejap…..mimpi akan keindahan sirna, kini terkubur dalam kenangannya selamanya. Segala lara dideritanya seorang diri, mengharapkan kekasih yang telah pergi meninggalkannya hanya semata rasa hormat pada keadaan. Kekasihnya tanpa daya harus menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Kekasihnya kembali harus berkompromi dengan keadaan yang dihadapinya, tanpa ada kompromi dengan sesuatu yang telah dimilikinya. Kekasihnya terpuruk kalah dalam situasi yang menghunus tajam.
Kalimat terakhir yang terurai indah dalam suratnya, tidak dapat diwujudkannya dengan nyata, “aku akan kembali”…entah kembali untuk apa? Kembali dalam bentuk bayangan malam yang hanya datang jika rembulan terang bersinar dan bayangan itu akan segera sirna ketika awan hitam malam menutupi sang muka rembulan, atau kembali dalam indahnya mimpi-mimpi malam, yang akan segera pergi seiring datangnya fajar pagi menyongsong mentari. Kembali sebagai kata penuh janji, namun tak pasti, desah sang ayu pilu.
“Bagaikan membangun istana pasir,” yah, kalimat ini mungkin yang lebih tepat kini. Apa yang telah mereka lakukan, bak membangun istana pasir semata, yang pasti akan hancur diterjang pasang air lautan dengan segera, karena dasar cinta tidak hanya cukup membangun bahtera bahagia.
Hari-harinya kini dilaluinya penuh harap akan kecemasan. Dalam kecemasannya masih seiring terpampang jelas dalam ingatan akan dirinya yang pernah sedikit mereguk nikmatnya dan merasakan indahnya rasa cinta pada seseorang. Walau sesaat! Akan tetapi, dirinya tidak merasa siap untuk turut kehilangan akan seseorang yang sangat dicintainya. Ia tiada sadar untuk menjadi bijak dalam menghadapi kehilangan, sehingga menimbulkan rasa begitu pilu dalam diri ayu. Ayu belum setulusnya sadar bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu, kecuali pengalaman hidup. Jika dirinya cukup sadar bahwa ia tidak pernah memiliki apapun, sehingga tidak seharusnya ia tenggelam dalam kepedih-piluan yang mendalam dan berlebih. Sesungguhnya, kemenangan hidup bukan berhasil mendapatkan sesuatu yang banyak, akan tetapi ada pada kemampuan untuk menikmati apa yang didapat tanpa menguasai. Layak persisnya seorang anak yang hanya hidup untuk dapat menikmati, tanpa harus menguasai.*
Kesulitan masih menghalangi jinjit-jinjit kakinya, jari-jari terasa kelu untuk dikibaskan. Lekuk tubuhnya bergayut kaku terasa hampa. Dalam kehampaan dan ketak-kuasaan sang ayu harus terus melangkah untuk menggapai segala cita dan asa. Walau pun terasa sangat sulit dan berat untuk berkompromi dengan suasana hatinya kini. Hingga tanpa dirinya sadari bahwa ada seseorang yang menunggunya dengan setia di setiap sela-sela harinya. Akh, itupun hanya sang waktu kelak yang dapat menjawab dan berucap serta dengan segera akan mengakhiri segala kepiluan hati sang ayu.
Jakarta, 10 November 2005
Inspired by:
- Kutipan e-mail “seseorang.”
- The Healing Stories karya GW Burns
If you want to meet the author, please visit http://myluuvystory.blogdrive.com/ dan sampaikan salamku untuknya..
Posted at 01:03 pm by penari
Permalink
Nov 9, 2005
Bila cinta kita tak kan tercipta
Ku hanya, sekedar ingin 'tuk mengerti
Adakah diriku, singgah di hatimu
dan bilakah kau tahu
Kaulah yang ada di hatiku
(Ketika, by Maliq and D'essential)
Posted at 11:15 pm by penari
Permalink
Oct 10, 2005
Ubud Readers & Writers Festival
Last day..
Packing, foto – foto dan balik ke Jakarta.. Nunggu di pom bensin Pondok Indah sampe dijemput Rini & Ditha. Kangen juga sama Jakarta (yeah right...)
Special thanks to Cikal for the opportunity, to Renny & Sugi for being the best guide ever and to You for making me realize what it feels to be "given"..
Posted at 10:43 pm by penari
Permalink
Oct 9, 2005
Ubud Readers & Writers Festival
Fourth day..
Jalan – jalan workshop with Ryan Ver Berkmoes. It was a workshop that teaches you how to make a guidebook and what do travel writer look for. Ryan Ver Berkmoes is a travel writer of many guidebooks, including Lonely Planet. After listening to an interesting story about being a travel writer, we were asked to go to Ubud street. The task is to walk along Ubud street to collect information and decide which shop, restaurant and place that can make it into the guidebook. It’s a very hot day, with a very long road yet exciting task to do.
Selesai workshop udah capek banget, pulang dan tidur siang.. Sorenya jalan ke Kuta sebentar, trus sightseeing di Seminyak. Barangnya seru, tapi harga butik.. Balik ke Ubud, eh mobilnya mogok (lagi..) ribet ngurusin mobil. Langsung ke Jazz cafe. Capek dan laper banget, karena belum makan dari pagi, jadinya mulai senewen. Ngga ikutan acara di Jazz Cafe dan jalan sepanjang Ubud untuk cari makan. Akhirnya makan martabak di emperan. Jauh – jauh ke Bali kok malah makan martabak.. Balik ke Jazz cafe, semua peserta workshop lagi dengerin musik sambil joget – joget. Seru, tapi ngga terlalu menikmati karena udah capek banget. Meet loads of famous writers there.
The Famous M. Emka!! 
Pulang setelah acara selesai dan langsung tidur..
If only things were different..
Posted at 10:04 pm by penari
Permalink
Oct 8, 2005
Ubud Readers & Writers Festival
Third day..
Another workshop waiting, Writing camp: Where to start and How to Finish, with Eliot Cohen. It teaches us step by step through any writing task. We were asked to work through each step in the process, from defining the task to drafting to the finished product. This workshop held from 9.00 am till 5.00 pm. A tiring, yet useful workshop.
Ke Museum Bali.. Denger cerita tentang sejarah rakyat Bali dan kebudayaannya. Ternyata budaya Bali dipengaruhi oleh budaya Cina juga.. Mampir di Monumen Nini Mandala, panas banget, tapi monumennya cantik banget. Seperti candi besar yang dibuat dari batu, lengkap dengan ukir -ukiran batunya. Ngga sempet masuk ke dalam, jadi foto - foto di luar aja.
Go straight to Kuta beach, to catch sunset and break my fast, but didn’t make it on time there. Decided to had dinner at Jimbaran beach.. Can’t explain my feelings there, for me, its just heaven..
Di Jimbaran makan ikan bakar, cumi bakar dan kerang.Yumm banget.. Basahin kaki di laut (pastinya..), main pasir. Aduh, seneng banget deh..
Pulangnya mampir ke Sanur sebentar. Ada pendopo di pinggir laut yang bisa untuk duduk – duduk sambil ngobrol disana. Seru sih, dengerin ombak sambil ngobrol, tapi karena udah malem banget, anginnya dingiin banget. Ngga tahan lama – lama disana, udah mulai ngantuk juga, jadi beli Mc Donald buat sahur, trus pulang deh..
Tired..
PS: Happy Birthday Mom!!!
Posted at 11:23 pm by penari
Permalink
Oct 7, 2005
Ubud readers & Writers Festival
Second day..
Start the day by joining the opening of Ubud Readers & Writers festival. The opening speech was by Arief Budiman. Interesting speech about cultures.
Setelah pembukaan, ada waktu kosong. Aku pergi ke Wanara Wana monkey forest
It is a rainforest with loads of monkeys hanging around its trees. There’s a stone bridge near a small waterfall. The bridge is covered by green moss and it gives you a mystic feeling. Taking pictures, enjoying the smell of rainforest and laughing at the monkeys. Fun!!
Shopping time!! Ke Sukawati dan belanja pernik – pernik seru. Beli celana pendek, kaos, kalung, gelang, sandal, tas, dan hal –hal ngga penting tapi seru lainnya. Tasnya bagus – bagus banget. Walaupun panas banget dan puasa, tapi pas lagi belanja ngga kerasa semuanya, hehe.
Next destination, Bali Bird Park. Had fun seeing all of those gorgeous colorful birds, taking pictures (pastinya..) and enjoying the sounds of birds singing. Jarang banget aku lihat begitu banyak warna indah dalam satu mahluk Tuhan.. Setelah selama ini cuma denger suara manusia dan klakson mobil, seneng banget bisa denger merdunya kicau burung. This is a-must-see place, although a bit expensive.
Hari semakin senja, another workshop waiting.. Dengerin love poems and songs di Three Monkeys Cafe. Beberapa penyanyi dan penyair dari Malaysia, Australia dan Filipina tampil dan bacain karya mereka tentang cinta. Bikin jadi mikir dan menghayal sih, hehe.. Sayang ngga ada seniman Indonesia malam itu, wonder why.. Three Monkeys Café adalah café yang dikelilingin sawah. Pemandangannya bagus sih, tapi kalo malem jadi dingin banget dan banyak nyamuk..
Selesai acara itu, ke rumah Mbak Ani sebentar, trus pulang deh..
Special thanks to Renny for the free pass to Bali Bird Park. You’re the best Ren!!
Posted at 11:50 pm by penari
Permalink
Oct 6, 2005
Ubud readers and writers Festival
Seperti biasa, bikin rencana ke Bali dua hari sebelum berangkat. Ada Ubud Writers and Readers Festival, tertarik, langsung cari tiket dan berangkat!!
First day..
Sampe di Ngurah Rai, langsung kerasa wangi laut.. Exciting! On the way to the villa, mampir ke Pantai Sanur. Disana ngga tahan untuk ngga basahin kaki, padahal panas bgt. Seru! Puas main air dan meng-gosong-kan diri, ke Sunrise Villa, Ubud, freshen up. Villanya di lembah dan pemandangannya hutan, keren.. Ketika lagi sholat, ada ular di sebelahku dan aku kira itu kabel!! Hampir aku pegang, untung aja ngga jadi..
Jam 5.30an, cari tempat buka. Jalan di Ubud dan menemukan tempat yang arsitekturnya keren banget. Restorannya terbuka, dominasi warna putih dengan bebek – bebek kayu di depannya. Menarik! Namanya Ary’s warung. Pingin buka puasa disana, tapi ternyata mahal banget!! Jadinya cuma makan bunga Zuchini dan fried Scallop. Unik sih, tapi masih laper pastinya.. Akhirnya jalan sepanjang jalan Ubud dan makan di Nomad Cafe. Nunggunya lamaa banget, but it was worth it. Aku makan bebek goreng plus nasi kuning, yumm.. Udah malem dan masih capek, jadi langsung pulang dan tidur..
Posted at 10:51 pm by penari
Permalink
Sep 13, 2005
Hari ini, aku.. ulang tahun!
Terima kasih untuk teman - teman yang ingat dan menyempatkan diri untuk menghubungi aku..
Hope this year be the best year ever.. Amin
Posted at 12:11 am by penari
Permalink
|